Selasa, 29 September 2020
A- A A+

Bidang Perikanan dan Kelautan

Kota Pekalongan yang mempunyai garis pantai sepanjang 6,15 km merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki Pelabuhan Perikanan yang cukup besar dengan type B, yang dilengkapi dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebagai pusat kegiatan dan transaksi hasil tangkapan ikan. Kedua fasilitas tersebut mendorong aktifitas perekonomian di Kota Pekalongan bergerak cukup baik, seperti perdagangan, pabrik es, pengolahan ikan, pergudangan, transportasi pengangkutan barang, maupun kegiatan ekonomi yang lain.

Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan laut, Kota Pekalongan memiliki potensi alam kelautan berupa produksi ikan laut yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan daerah dan mata pencaharian masyarakat, serta dapat diandalkan sebagai komoditas ekspor dalam bentuk produk olahan ikan laut. Potensi sumber daya perikanan di perairan bagian utara Kota Pekalongan didominasi sumber daya ikan kecil, yaitu ikan-ikan yang hidup di permukaan laut atau didekatnya, dan umumnya terdiri dari ikan-ikan yang berukuran relatif kecil seperti ikan kembung, ikan layar, ikan selar, ikan bentong, ikan lemuru, ikan tembang dan lain-lain. Namun, kendala musim menyebabkan produksi ikan laut tidak selalu memberikan hasil yang menguntungkan bagi masyarakat nelayan, dan usaha perikanan laut lainnya.

Sarana dan prasarana yang mendukung telah disiapkan Pemerintah Kota Pekalongan agar dapat menunjang usaha penangkapan, pendaratan sampai pelelangan ikan dan pengelolaan hasil tangkapan serta memperlancar rantai pemasaran.

Jenis Potensi Investasi di Sektor Perikanan dan Kelautan :


1.  Perikanan Tangkap

Selain kerajinan batik, salah satu potensi lain yang diandalkan Kota Pekalongan adalah sektor perikanan yang kini sempat “tenggelam” jika dibanding pada era 1990 hingga tahun 2002, yang produksi perikanan tangkapnya mampu mencapai 300 – 500 ton per hari, sedangkan kini hanya mampu sekitar 70 ton per hari.

Namun, dengan terpilihnya Kota Pekalongan dari 12 kota lainnya di Indonesia sebagai salah satu sasaran proyek minapolitan oleh Pemerintah, kini Pemerintah Daerah Kota Pekalongan terus memacu sektor perikanan agar kembali jaya seperti tahun sebelumnya. Program pendukung pembangunan kawasan minapolitan pun terus digarap, seperti pengerukan alur sebagai upaya memperlancar lalu lintas kapal nelayan, pembangunan “breakwater” (penahan gelombang), dan peninggian jalan karena sering tergenang rob.

Perikanan menjadi salah satu sub sektor andalan dalam usaha sektor pertanian di Kota Pekalongan. Hal ini ditunjukkan pada angka PDRB Kota Pekalongan yang selama kurun waktu 7 tahun terakhir ini, subsektor perikanan mempunyai nilai tambah tertinggi dibandingkan dengan subsektor pertanian lainnya seperti tanaman pangan maupun peternakan.

Pada semester I Tahun 2016 mencapai 10.693,52 ton, dengan nilai Rp. 155,67 milyar, lebih tinggi 40,23% dibandingkan tahun 2015 sebanyak 7.625,68 ton dengan nilai Rp 90,38 milyar. Pada bulan Februari, produksi ikan tercatat paling rendah bila dibandingkan dengan bulan lain pada Semester I 2016, yaitu hanya 1.303,57 ton dengan nilai Rp. 15,97 milyar. Produksi tertinggi terjadi pada bulan Januari, sebanyak 2.500,42 ton dengan nilai Rp. 29,97 milyar.

Produksi ikan laut pada semester II Tahun 2016 mencapai 9.913,87 ton, dengan nilai mencapai Rp 123,53 milyar rupiah, jumlahnya lebih rendah 0,43% bila dibandingkan dengan Tahun 2015, sebanyak 9.956,66 ton dengan nilai Rp 103,27 milyar. Pada bulan Agustus, produksi tercatat paling rendah bila dibandingkan dengan bulan lain pada semester II Tahun 2016, yaitu hanya 220,54 ton dengan nilai Rp 7,94 milyar. Produksi tertinggi terjadi pada bulan Oktober, mencapai 3.752,38 ton dengan nilai Rp 41,06 milyar.


Berdasarkan Jenis Alat Tangkap

Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP) merupakan tempat pendaratan kapal dan perahu motor yang menggunakan alat tangkap jenis Purse Seine (PS) dan Gill Net. Hasil tangkapan ikan laut yang didaratkan di PPNP sebagian besar menggunakan alat tangkap Purse Seine, Purse Seine Mini dan Gill Net.

Pada Tahun 2016, jumlah ikan yang ditangkap dengan menggunakan Purse Seine mencapai 13.158,642 ton (63,85%), Purse Seine Mini sebanyak 5.992,814 ton, (29,08%), Gill Net sebanyak 1.448,222 ton (7,03%) dan yang menggunakan alat tangkap lainnya sebanyak 7.710 (0,04%) ton.

1. Purse Siene

Uraian Proyek

Purse Seine disebut juga “pukat cincin” Fungsi cincin dan tali kerut / tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk pada tiap akhir penangkapan.

Prinsip menangkap ikan dengan purse seine adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring bagian bawah dikerucutkan, dengan demikian ikan-ikan terkumpul di bagian kantong. Fungsi mata jaring dan jaring adalah sebagai dinding penghadang, dan bukan sebagai pengerat ikan.

Kondisi Eksisting

Jumlah pengusaha perikanan purse seine menurun dalam kurun 10 tahun. Dengan adanya program Minapolitan, Pelabuhan di Kota Pekalongan membuka peluang investasi untuk mengangkat kembali kejayaan Purse Seine pada masa lalu.

Kegiatan investasi usaha perikanan Purse Seine mencakup :

1) Pembelian Kapal

2) Pembelian Mesin

3) Pemasangan Palkah

4) Pembelian Jaring Purse Seine

5) Pembelian Peralatan Lain

6) Perijinan Usaha

Aspek Pasar

Ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan dari purse seine adalah ikan-ikan yang “Pelagic Shoaling Species”, yang berarti ikan-ikan tersebut haruslah membentuk shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan air (sea surface) dan sangatlah diharapkan pula agar densitas shoal itu tinggi, yang berarti jarak antara ikan dangan ikan lainnya haruslah sedekat mungkin.

Jenis ikan yang ditangkap dengan purse seine terutama di daerah Pantai Utara Jawa dan sekitarnya adalah : Layang (Decapterus spp), bentang, kembung (Rastrehinger spp) lemuru (Sardinella spp), slengseng, cumi-cumi dll.

Jenis ikan tersebut banyak digunakan sebagai bahan baku pengalengan ikan, ikan pindang, pengasapan dan bahan produk pengolahan ikan serta konsumsi lokal bahkan dapat menjadi komoditi ekspor.

Aspek Keuangan

Pada tingkat suku bunga komersial (16 %), nilai NPV nya positif, nilai B/C ratio : 1.26, nilai IRR 19,49 %. Nilai Pay Back Period sebesar 2,56. Perkiraan Investasi Rp 10.869.760.000,00

Aspek Legal dan Bentuk Investasi

1) Kemudahan dalam Pelayanan Perizinan

2) Investasi Murni

2. Gillnet

Uraian Proyek

Gillnet sering diterjemahkan dengan “jaring insang”, “jaring rahang”, dan lain sebagainya. Istilah gillnet didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap (gilled-terjerat) pada sekitar operculum / tutup insangnya pada mata jaring.

Kondisi Eksisting

Saat ini di Kota Pekalongan jumlah usaha perikanan tangkap dengan gill net hanya berkisar 14 buah kapal pada tahun 2014. Dengan potensi dan fasilitas yang ada sangat layak usaha ini untuk dikembangkan lebih lanjut.

Aspek Pasar

Dengan beroperasinya TPI higienis yang ada di PPN Pekalongan, maka harga jual ikan hasil tangkapan gill net lebih tinggi dibandingkan dengan ikan yang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap purse seine. Hal ini disebabkan mutu ikan yang tertangkap dengan gill net lebih baik bila dibanding dengan mutu ikan yang ditangkap dengan purse seine.

Jenis ikan yang dihasilkan adalah jenis ikan yang berenang dekat permukaan laut, dan ikan demersal. Misalnya saury, sardine, salmon, layang, tembang kembung, dan lain-lain membentuk suatu gerobolan (shoal) yang mempunyai ukuran hampir sama.

Aspek Keuangan

Usaha perikanan tangkap gillnet ukuran kapal 24 GT layak dikembangkan dengan nilai NPV= Rp 887.907.000,00 dengan nilai BC/R sebesar 1,48 dan nilai IRR sebesar 39%. Berdasarkan kriteria investasi usaha ini masih layak untuk dikembangkan. Nilai Investasi diperkirakan Rp 311.500.000,00

Aspek Legal dan Bentuk Investasi

1) Kemudahan dalam Pelayanan Perizinan

2) Investasi Murni



2.  Galangan Kapal

Uraian Proyek

Program penguatan kemaritiman di Indonesia dan dukungan dari pemerintah daerah, membuat industri galangan kapal di Kota Pekalongan mempunyai prospek yang cukup menjanjikan. Selain itu usaha perikanan tangkap yang merupakan unggulan di Kota Pekalongan yang semakin maju dengan dukungan program kawasan minapolitan dan pemenuhan infrastruktur baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah maka industri galangan kapal layak untuk dikembangkan lebih lanjut.

Kondisi Eksisting

Saat ini di Kota Pekalongan terdapat beberapa industri galangan kapal yang sudah beroperasi. Pada umumnya masih beraktifitas sebagai tempat perbaikan kapal, namun sekarang sudah ada industri pembuatan kapal. Usaha galangan kapal ini terletak di daerah Kecamatan Pekalongan Utara yang mempunyai akses langsung ke Laut Jawa.

Aspek Pasar

Banyaknya usaha perikanan tangkap di daerah pesisir utara Jawa dan daerah lain di Indonesia, program penguatan kemaritiman dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan maka industri galangan kapal ini diyakini akan terus berkembang. Terlebih di daerah Batang sebelah timur Kota Pekalongan akan dibangun PLTU terbesar di ASEAN dengan akses transportasi bahan bakunya melalui jalur laut.

Aspek Keuangan

Perkiraan Investasi : Rp. 6.515.000.000,-

Modal Kerja : Rp. 547.850.000,-

ARR : 20%

Umur Ekonomis : 5 Tahun

Aspek Legal dan Bentuk Investasi

1) Kemudahan dalam Pelayanan Perizinan

2) Investasi Murni


3.  Cold Storage

Uraian Proyek

Cold storage atau gudang pendingin digunakan untuk menyimpan ikan hasil tangkapan dari laut agar tetap segar dan terjaga kualitasnya, sehingga dapat menjamin ketersediaan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan ikan. Selain itu keberadaan cold storage dapat menjaga kestabilan harga ikan.

Kondisi Eksisting

Potensi perikanan di Kota Pekalongan baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya yang cukup besar membuat keberadaan cold storage sangat diperlukan untuk mendukung usaha perikanan tersebut. Saat ini hanya ada beberapa usaha cold storage yang diintergrasikan dengan industri pengalengan ikan.

Aspek Pasar

Salah satu sektor unggulan di Kota Pekalongan adalah di bidang perikanan, baik perikanan tangkap ataupun perikanan budidaya. Hal ini mendorong menggeliatnya usaha pasca tangkap seperti industri pengolahan ikan, tepung ikan, pengalengan dan lain sebagainya. Hasil produksi perikanan ini disamping untuk memenuhi kebutuhan lokal juga banyak yang dikirim ke luar daerah dan bahkan ada yang diekspor ke luar negeri.

Aspek Keuangan

Nilai Investasi diperkirakan mencapai Rp 10.000.000.000,- dengan kapasitas cold storage mencapai 500 Ton.

Aspek Legal dan Bentuk Investasi

1) Kemudahan dalam Pelayanan Perizinan

2) Investasi Murni dan Kerjasama


4.  Perikanan Budidaya

Uraian Proyek

Cold storage atau gudang pendingin digunakan untuk menyimpan ikan hasil tangkapan dari laut agar tetap segar dan terjaga kualitasnya, sehingga dapat menjamin ketersediaan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan ikan. Selain itu keberadaan cold storage dapat menjaga kestabilan harga ikan.

Kondisi Eksisting

Salah satu upaya Pemerintah Kota Pekalongan untuk meningkatkan industrialisasi perikanan budidaya adalah dengan penyediaan infrasruktur, di antaranya adalah :

1) Pembangunan Tambak

2) Saluran Irigasi Tambak

3) Jalan Produksi Tambak

4) Peralatan/Mesin Kincir

5) Jaringan Listrik/Genset

6) Balai Benih Ikan

7) Rumah Pakan Mandiri

8) Pasar Ikan

Selain itu dukungan pendampingan, pembinaan teknis budidaya dan penyuluhan dari berbagai pihak (Dinas teknis, BBPBAP Jepara, BI Tegal, dll) terus ditingkatkan dengan model budidaya dengan sistem klaster (kawasan).




Aspek Pasar

Kebutuhan masyarakat lokal maupun internasional akan hasil perikanan budidaya masih sangat besar, sehingga usaha ini layak untuk dikembangkan. Adanya dukungan dari pemerintah pusat dan daerah untuk terus mengembangkan usaha perikanan budidaya dengan memanfaatkan lahan iddle (lahan yang terkena dampak air laut/rob) sebagai upaya ketahanan pangan, merupakan sinyal positif bagi kelanjutan usaha perikanan budidaya ini.

Sedangkan untuk budidaya ikan hias Pemerintah Kota Pekalongan telah menyediakan Pasar Ikan Hias di Kawasan Perdagangan Terpadu Kuripan Lor.

Aspek Legal dan Bentuk Investasi

1) Kemudahan dalam Pelayanan Perizinan

2) Investasi Murni dan Kerjasama


5.  Budidaya Udang Vanname

Uraian Proyek

Salah satu komoditas budidaya yang prospek untuk dikembangkan di Kota Pekalongan adalah udang vaname karena mempunyai kelebihan yaitu toleran terhadap lingkungan dan tahan terhadap penyakit.

Kota Pekalongan saat ini diperhitungkan dalam produksi udangnya sebagai bagian dari produksi udang nasional. Ini dikarenakan Kota Pekalongan memiliki lahan yang sangat berpotensi untuk mengembangkan akan budidaya udang Vaname, yang termasuk bagian dari konsep minapolitan yang dicanangkan Pemerintah Kota Pekalongan sebagai kota perikanan dengan berbasiskan pada pengembangan di sektor perikanan tangkap dan budidaya perikanan.

Kondisi Eksisting

Dalam rangka menunjang Industrialisasi perikanan di Kota Pekalongan, maka diperlukan inovasi teknologi. Potensi lahan budidaya yang ada sekitar 720 hektar terdiri dari 333 hektar tambak dan 387 hektar lahan idle. kegiatan Diseminasi Budidaya Udang Vanname semi Intensif dengan sistem Klaster di Kelurahan Degayu kerjasama antara Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pekalongan dengan Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara yang dilaksanakan di Kelurahan Degayu sejak tahun 2011.

Konsep Kluster

Pertimbangan penerapan budidaya udang sistem klaster karena diduga penyebab kegagalan budidaya udang adalah adanya penularan penyakit di kawasan budidaya. Usaha untuk meminimalisir penularan penyakit, meningkatkan produksi dan produktivitas, mengoptimalkan biaya produksi maka digunakan manajemen konsep klaster budidaya udang dengan melalui pemberdayaan pembudidaya dalam kawasan.

Konsep klaster budidaya udang yaitu :

1) Penentuan lokasi klaster dengan kualitas tanah dasar tambak tidak masam, pada lahan tambak estuarine dengan salinitas minimal 3 ppt

2) Konsep klaster meliputi konstruksi tambak yang kedap, desain dan tata letak tambak menerapkan konsep biosecurity yaitu petak pembesaran udang dikelilingi pagar (barrier), pematang yang kedap atau oleh petak/saluran sebagai biofilter

3) Penggunaan benih yang bebas penyakit (SPF) dengan sumber benih yang sama dan sumber sarana produksi yang sama

4) Menerapkan manajemen budidaya yang sama, musim tebar serempak (use an all-out, all in, once only stocking of participating ponds) secara teknis yaitu menjaga kestabilan kualitas lingkungan tambak, serta secara non teknis meliputi keamanan lingkungan tambak dan manajemen usaha dilakukan secara bersama-sama oleh pembudidaya dalam satu klaster

5) Memaksimalkan produk udang yang aman pangan (food safety), berkualitas dan menguntungkan. Penggunaan sarana dan prasarana produksi sesuai dengan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) atau BMPs (Best Management Practices)

Aspek Pasar

Udang vannamei menjanjikan penghasilan tinggi bagi masyarakat karena merupakan komoditas ekspor. Bahkan, udang vanname juga memiliki kelebihan karena laku dijual dalam berbagai ukuran. Berbeda dengan udang windu yang hanya diterima pasar untuk ukuran udang besar.



Aspek Legal dan Bentuk Investasi

1) Kemudahan dalam Pelayanan Perizinan

2) Investasi Murni dan Kerjasama


6.  Budidaya Bandeng

Lahan potensial di Kota Pekalongan yang dapat dijadikan Budidaya Bandeng masih cukup memadai. Adanya area persawahan yang terkena dampak rob, membuat lahan yang bisa dimanfaatkan untuk tambak/budidaya mencapai 730 hektar.

Areal itu berada di Kecamatan Pekalongan Utara, meliputi wilayah Pabean, Bandengan, Kandang Panjang, Panjang Baru, Degayu, dan Krapyak.


7.  Budidaya Rumput Laut

Uraian Proyek

Indonesia merupakan penghasil rumput laut nomor 1 di dunia, karena luas daerah pesisir merupakan lahan subur untuk perkembangan rumput laut. Pengolahan rumput laut membuka peluang usaha yang menjanjikan dan masih terbuka lebar. Rumput laut yang paling banyak dibudidayakan adalah Gracillaria sp yaitu kelompok rumput laut penghasil agar (agarofit). Gracillaria termasuk rumput laut yang bersifat eurihaline (dapat hidup pada kisaran salinitas yang lebar) yaitu antara 15 – 30 ppt.

Kondisi Eksisting

Kota Pekalongan yang terletak di Pantai Utara Jawa memiliki potensi pengembangan rumput laut khususnya budidaya rumput laut di tambak. Luas lahan yang tersedia sekitar 422 hektar. Saat ini telah digunakan seluas 90 hektar sehingga masih tersedia lahan seluas 332 hektar yang masih dapat dikembangkan.

Aspek Pasar

Rumput Laut merupakan bahan baku yang dapat digunakan di berbagai industri baik industri pangan maupun non pangan, seperti : pembuatan agar – agar, puding, kosmetik, farmasi, cat, shampo, kertas dan lain sebagainya. Kebutuhan pasar akan rumput laut sangat besar karena kecenderungan permintaan pasar global yang terus meningkat.

Aspek Keuangan

Perkiraan Investasi : Rp 65.000.000,- /Hektar

Aspek Legal dan Bentuk Investasi

1) Kemudahan dalam Pelayanan Perizinan

2) Investasi Murni dan Kerjasama


8.  Perikanan Pasca Tangkap

Uraian Proyek

Daerah penangkapan ikan bagi para nelayan Pekalongan dengan relatif jauh berkisar antara 20 sampai 60 hari menyebabkan ikan hasil tangkapan perlu penanganan yang baik. Ikan hasil tangkapan yang digarami di kapal diolah menjadi ikan asin. Penanganan ikan di kapal diawetkan dengan es dan dan dengan pengawetan suhu dingin dengan frezer dan selanjutnya digolongkan dalam berbagai kualifikasi.

Ikan segar dipasarkan ke luar daerah dan sebagain digunakan untuk bahan baku pengalengan ikan, ikan pindang dan sebagian dibuat panggang atau ikan bakar sebagai konsumsi lokal. Diversifikasi produk olahan yang ada selain produk tersebut diatas adalah terasi, surimi dan kerupuk udang/ ikan, nuget ikan, empek-empek, ekado, dan lain-lain. Semua produk perikanan tangkap termanfaatkan serta memiliki nilai jual yang tinggi rendahnya tergantung penanganan dan pengolahannya untuk konsumsi lokal dan sebagian untuk ekspor.

Kondisi Eksisting

Produksi pengolahan perikanan pasca tangkap yang ada di Kota Pekalongan di antaranya adalah pengasinan, pemindangan, pengasapan, fermentasi, ikan segar dan produk nilai tambah.



Pelaku usaha produksi perikanan pasca tangkap di Kota Pekalongan saat ini dapat dilihat dalam tabel berikut :


Aspek Pasar

Hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal, nasional bahkan diekspor ke luar negeri.

Aspek Keuangan

Perkiraan Investasi : Rp 65.000.000,- /Hektar

Aspek Legal dan Bentuk Investasi

1) Kemudahan dalam Pelayanan Perizinan

2) Investasi Murni dan Kerjasama


9.  Budidaya Ikan Hias

Uraian Proyek

Keterbatasan lahan di Perkotaan menjadi kendala tersendiri bagi usaha budidaya ikan. Sehingga Budidaya Ikan Hias bisa menjadi solusi, selain orang suka akan keindahan ikan hias banyak pula orang yang menggantungkan hidupnya dari membudidayakan dan memasarkan ikan hias yang jenisnya bermacam-macam.

Tak jarang beberapa pembudidaya ikan yang semula menekuni budidaya ikan konsumsi seperti ikan lele, ikan nila, guramih dan lain sebagainya beralih menekuni budidaya ikan hias. Semua itu dilakukan karena peluang usaha dan potensi ekonomis budidaya ikan hias

Kondisi Eksisting

Permintaan pasar ikan hias terutama cupang cukup besar dilihat dari penjualan para pembudidaya ikan yang mampu menjual 4000 ekor ikan cupang tiap bulan dengan nilai jual mencapai Rp. 8.000.000, selain itu ikan – ikan berkualitas bisa dijual dengan harga berkisar Rp. 50.000 hingga Jutaan rupiah per ekornya, tentu saja hal ini dengan kriteria dan tampilan ikan yang baik.

Nilai produksi ikan hias kota Pekalongan pada tahun 2016 mencapai Rp.22,244,000,000,- yang mana ikan cupang menjadi penyumbang terbesar produksi dengan nilai Rp. 8,743,500,000,- ditambah ikan hias lain seperti Manfish, Koki, Guppy, Melantis.



Aspek Pasar

Hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal, nasional bahkan diekspor ke luar negeri.

Untuk meningkatkan nilai jual dan kualitas ikan hias terutama ikan cupang dan guppy, para pembudidaya kedua jenis ikan ini sering mengikuti kontes yang diadakan didalam maupun diluar kota yang tentunya diiringi dengan berbagai penghargaan maupun trophy yang cukup membanggakan sebagai bukti kualitas ikan hias kota Pekalongan.

Aspek Legal dan Bentuk Investasi

1) Kemudahan dalam Pelayanan Perizinan

2) Investasi Murni dan Kerjasama


10. Rumah Kemasan

Kondisi Eksisting

Rumah kemasan Kota Pekalongan berada di kawasan Technopark Perikanan, kawasan Technopark Perikanan Kota Pekalongan berada di Kelurahan Panjang Wetan Kecamatan Pekalongan Utara. Rumah kemasan Kota Pekalongan di bangun pada tahun 2013 melalui dana Tugas Pembantuan ( TP ) Kementrian Kelautan dan Perikanan RI.

Tujuan dari dibangunnya rumah kemasan adalah untuk memfasilitasi kelompok usaha bersama/Poklasar dan UKM di Kota Pekalongan terutama yang bergerak di bidang usaha produksi Pengolahan Hasil Perikanan dalam pengemasan produknya agar lebih menarik, tahan lama, dan kuat sehingga produknya mempunyai daya saing yang kompetitif untuk memasuki pasar lokal dan nasional.

1) Memberikan pelayanan kepada KUB/Poklasar/UKM yang akan mengemas produknya.

2) Memberikan layanan desain pada label kemasan

3) Memberikan konsultasi/advice kepada KUB/Poklasar/UKM yang memerlukan masukan-masukan dalam mengemas produknya.

4) Memberikan pelatihan kepada perseorangan atau lembaga yang memerlukan.


11. Rumah Pakan Produksi

Potensi perikanan budidaya di Kota Pekalongan Tahun 2017 meliputi tambak 379 Ha, jaring tancap 90 Ha, kolam 7 Ha dan lahan belum dikelola berupa lahan iddle mencapai 267 Ha. Budidaya dengan teknologi intensif dan semi intensif dengan pemberian pakan sehingga kebutuhan pakan cukup tinggi sekitar 60-70% dari total biaya. Sehingga kebutuhan pakan sekitar 1,052,000 kg dilihat dari produksi ikan kota pekalongan yang mencapai 1502,000 kg pada tahun 2016. Jika dikonversikan pada rata – rata harga pakan saat ini yang mencapai Rp. 10.000 maka potensi usaha pakan di Kota pekalongan mencapai Rp. 10,520,000,000,-.

Sementara harga pakan ikan saat ini semakin mahal yang tidak diikuti harga jual ikan yang memadai sehingga pembudidaya belum memperoleh keuntungan belum optimal. Sebagai gambaran harga produksi ikan yang menggunakan pakan seperti ikan bandeng, nila, lele berkisar Rp. 13.000- 16.000/kg. Sementara harga pakan ikan berkisar Rp. 9.000-11.000/kg. Biaya produksi sekitar Rp. 12.000-14.000/kg sehingga keuntungan hanya sekitar Rp. 1.000-2.000/kg.

Hal ini yang menjadikan dasar pertimbangan Dinas Keluatan dan Perikanan Kota Pekalongan dalam mendukung program Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari). Bentuk kegiatan tersebut yaitu dengan memfasilitasi produksi pakan ikan secara mandiri yang dikelola oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) Lestari yang berlokasi di Kawasan Manajemen Technopark Perikanan Kota Pekalongan. Hasil produksi KUB Lestari saat ini adalah pakan lele dan pakan nila

Tujuan Produksi Pakan Mandiri :

1) Menyediakan pakan ikan dengan harga terjangkau oleh para pembudidaya ikan.

2) Mengoptimalkan efisiensi usaha budidaya agar pembudidaya memperoleh keuntungan secara optimal.

3) Pemanfaatan bahan baku lokal belum dimanfaatkan optimal dalam upaya pembuatan pakan mandiri berbasis bahan baku lokal.

4) Membuka peluang usaha dan peluang kerja di sektor perikanan.

5) Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pembudidaya ikan dalam meningkatkan pengelolaan usahanya.

Hubungi Kami

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Pekalongan

Jl. Majapahit No. 1 Pekalongan

Telp : 0285 - 432086
Fax : 0285 - 420428
Email : oss@pekalongankota.go.id